Fans FB

Rabu, 08 Februari 2012

REVIEW Journey 2: The Mysterious Island

Michael Caine adalah salah satu aktor yang paling dihormati di Hollywood. Berhasil memenangkan dua penghargaan Academy Awards dan kemudian menjadi salah satu aktor yang secara konsisten selalu berhasil meraih nominasi akting di ajang penghargaan film Hollywood tersebut di setiap dekade semenjak tahun 1960an, Caine mempertajam reputasinya sebagai seorang aktor kelas atas dengan selalu memberikan penampilan yang sempurna pada film-film yang secara hati-hati ia pilih untuk bintangi. Karenanya, cukup mengherankan untuk melihat mengapa Caine mau ambil bagian dalam Journey 2: The Mysterious Island – sekuel dari film Journey to the Center of the Earth yang sukses besar secara komersial ketika dirilis pada tahun 2008 dan menjadi salah satu film pelopor bangkitnya penggunaan teknologi 3D di film-film Hollywood. Journey 2: The Mysterious Island tidak hanya memiliki jalan cerita yang begitu mudah ditebak. Jalan cerita film ini tampil begitu malas, tanpa berusaha untuk memberikan sebuah nuansa penceritaan baru serta deretan karakter yang begitu dangkal dan sulit untuk disukai.

Dalam Journey 2: The Mysterious Island, Sean mendapatkan sederetan sandi rahasia yang ia percaya dikirimkan oleh seorang Vernian – sebutan bagi para penikmat sejati karya-karya penulis Jules Verne. Menghadapi kesukaran dalam memecahkan sandi tersebut, Sean akhirnya meminta bantuan pada ayah tirinya, Hank Parsons (Dwayne Johnson). Lewat bantuan Hank, sandi tersebut akhirnya dapat terbaca dan mengungkapkan bahwa ‘pulau misterius adalah nyata.’

Sean jelas girang membaca arti sandi tersebut. Karena dikirimkan oleh seorang Vernian – yang kemudian diduga Sean adalah kakeknya, Alexander Anderson (Michael Caine), Sean mengartikan bahwa pulau misterius yang dimaksud adalah pulau misterius yang terdapat dalam novel The Mysterious Island karya Jules Verne. Jelas, seperti yang dapat diduga, Sean kemudian berniat untuk berangkat ke pulau tersebut – yang kemudian diketahui sebagai Pulau Palau di Samudera Pasifik – sekaligus untuk menemui kakeknya. Ide yang (laagi-lagi) jelas kemudian ditolak oleh Hank. Namun, dalam usahanya untuk mendekatkan dirinya dengan Sean, Hank akhirnya mengizinkan Sean untuk berangkat berpetualang… bersama dirinya. Dan rentetan petualangan ke sebuah dunia baru yang sama sekali belum pernah dikenal manusia sebelumnya pun akhirnya dimulai.

Seperti yang ditawarkan oleh seri pertamanya, Journey 2: The Mysterious Island adalah sebuah film yang menitikberatkan pesonanya pada kemampuan para pembuatnya untuk menampilkan tampilan-tampilan gambar yang mempesona, efek-efek visual yang mengagumkan serta penggunaan teknologi 3D yang akan membuat jalan cerita semakin hidup. Aturan-aturan tersebut masih diterapkan dalam Journey 2: The Mysterious Island dan, sejujurnya, masih mampu bekerja dengan efektif dalam memberikan daya tarik tersendiri bagi penonton mengenai sebuah dunia baru yang diisi dengan makhluk-makhluk aneh yang belum pernah dilihat sebelumnya dan tampilan visual yang indah dengan warna-warna yang begitu eye-catching. Baiklah. Journey 2: The Mysterious Island adalah sebuah pemenang jika Anda ingin menilainya dari sisi tampilan visual.

Namun, tidak dapat dipungkiri, Journey 2: The Mysterious Island memiliki naskah cerita yang benar-benar lemah. Semua perjalanan dan kejadian yang akan terjadi dalam film ini dapat dengan mudah telah diduga sebelumnya. Penulis naskah Brian dan Mark Gunn kemudian berusaha untuk menambah lapisan jalan cerita film ini dengan terus-menerus memberikan permasalahan untuk dihadapi para karakternya. Sayangnya, eksekusi pengarahan Brad Peyton tidak pernah mampu benar-benar membuat Journey 2: The Mysterious Island berjalan dengan baik. Hasilnya, banyak diantara adegan yang disajikan terasa begitu terburu-buru dan diselesaikan dengan cara yang begitu dangkal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar