Michael Caine adalah salah satu aktor yang
paling dihormati di Hollywood. Berhasil memenangkan dua penghargaan
Academy Awards dan kemudian menjadi salah satu aktor yang secara
konsisten selalu berhasil meraih nominasi akting di ajang penghargaan
film Hollywood tersebut di setiap dekade semenjak tahun 1960an, Caine
mempertajam reputasinya sebagai seorang aktor kelas atas dengan selalu
memberikan penampilan yang sempurna pada film-film yang secara hati-hati
ia pilih untuk bintangi. Karenanya, cukup mengherankan untuk melihat
mengapa Caine mau ambil bagian dalam Journey 2: The Mysterious Island –
sekuel dari film Journey to the Center of the Earth yang sukses besar
secara komersial ketika dirilis pada tahun 2008 dan menjadi salah satu
film pelopor bangkitnya penggunaan teknologi 3D di film-film Hollywood.
Journey 2: The Mysterious Island tidak hanya memiliki jalan cerita yang
begitu mudah ditebak. Jalan cerita film ini tampil begitu malas, tanpa
berusaha untuk memberikan sebuah nuansa penceritaan baru serta deretan
karakter yang begitu dangkal dan sulit untuk disukai.
Dalam
Journey 2: The Mysterious Island, Sean mendapatkan sederetan sandi
rahasia yang ia percaya dikirimkan oleh seorang Vernian – sebutan bagi
para penikmat sejati karya-karya penulis Jules Verne. Menghadapi
kesukaran dalam memecahkan sandi tersebut, Sean akhirnya meminta bantuan
pada ayah tirinya, Hank Parsons (Dwayne Johnson). Lewat bantuan Hank,
sandi tersebut akhirnya dapat terbaca dan mengungkapkan bahwa ‘pulau
misterius adalah nyata.’
Sean jelas girang membaca arti sandi
tersebut. Karena dikirimkan oleh seorang Vernian – yang kemudian diduga
Sean adalah kakeknya, Alexander Anderson (Michael Caine), Sean
mengartikan bahwa pulau misterius yang dimaksud adalah pulau misterius
yang terdapat dalam novel The Mysterious Island karya Jules Verne.
Jelas, seperti yang dapat diduga, Sean kemudian berniat untuk berangkat
ke pulau tersebut – yang kemudian diketahui sebagai Pulau Palau di
Samudera Pasifik – sekaligus untuk menemui kakeknya. Ide yang
(laagi-lagi) jelas kemudian ditolak oleh Hank. Namun, dalam usahanya
untuk mendekatkan dirinya dengan Sean, Hank akhirnya mengizinkan Sean
untuk berangkat berpetualang… bersama dirinya. Dan rentetan petualangan
ke sebuah dunia baru yang sama sekali belum pernah dikenal manusia
sebelumnya pun akhirnya dimulai.
Seperti yang ditawarkan oleh
seri pertamanya, Journey 2: The Mysterious Island adalah sebuah film
yang menitikberatkan pesonanya pada kemampuan para pembuatnya untuk
menampilkan tampilan-tampilan gambar yang mempesona, efek-efek visual
yang mengagumkan serta penggunaan teknologi 3D yang akan membuat jalan
cerita semakin hidup. Aturan-aturan tersebut masih diterapkan dalam
Journey 2: The Mysterious Island dan, sejujurnya, masih mampu bekerja
dengan efektif dalam memberikan daya tarik tersendiri bagi penonton
mengenai sebuah dunia baru yang diisi dengan makhluk-makhluk aneh yang
belum pernah dilihat sebelumnya dan tampilan visual yang indah dengan
warna-warna yang begitu eye-catching. Baiklah. Journey 2: The Mysterious
Island adalah sebuah pemenang jika Anda ingin menilainya dari sisi
tampilan visual.
Namun, tidak dapat dipungkiri, Journey 2: The
Mysterious Island memiliki naskah cerita yang benar-benar lemah. Semua
perjalanan dan kejadian yang akan terjadi dalam film ini dapat dengan
mudah telah diduga sebelumnya. Penulis naskah Brian dan Mark Gunn
kemudian berusaha untuk menambah lapisan jalan cerita film ini dengan
terus-menerus memberikan permasalahan untuk dihadapi para karakternya.
Sayangnya, eksekusi pengarahan Brad Peyton tidak pernah mampu
benar-benar membuat Journey 2: The Mysterious Island berjalan dengan
baik. Hasilnya, banyak diantara adegan yang disajikan terasa begitu
terburu-buru dan diselesaikan dengan cara yang begitu dangkal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar