Roy Waller (Nicolas Cage) adalah contoh
karakter yang menarik, pertama karena pekerjaannya yang tidak biasa itu.
Ia meyebut dirinya seorang con artist alias penipu. Ya, sudah
lama Roy bersama rekannya, Frank Mercer (Sam Rockwell) menjalani profesi
mereka sebagai penipu, mulai dari tipuan kecil seperti memalsukan
lotere, menjual penyaring air murah dengan harga berkali-kali lipat,
sampai menyamar sebagai agen federal. Kedua, Roy juga adalah pengidapap
banyak kelainan mental yang aneh, dari agoraphobia (takut tempat terbuka dan keramaian), mysophobia (phobia terhadap segala kotoran dan bakteri), obsessive-compulsive personality disorder
(perfeksionis dan mengharapkan segalanya rapi pada tempatnya) dan harus
rutin mengkonsumsi obat tertentu karenanya. Dan ketika ia harus bertemu
dengan Angela (Alison Lohman), putrinya yang tidak pernah di kenalnya
sejak lahir atas saran ,hidup Roy pun menjadi tidak sama lagi.
Mengejutkan adalah ketika saya baru saja menonton Matchstick Men
8 tahun kemudian setelah filmnya rilis, mengejutkan lagi karena film
garapan Ridley Scott ini ternyata lebih baik dari perkiraan saya
sebelumnya. Ya, Seperti judulnya yang sudah terang benderang menjelaskan
isinya, ia akan banyak bercerita tentang sepak terjang seorang penipu
yang naskahnya diadaptasi dari novel Matchstick Men: A Novel about Grifters with Issues milik Eric Garcia. Tapi menariknya, dalam perjalannya Matchstick Men
tidak melulu becerita soal teknik tipu menipu saja dengan segala
selipan komedi satir di dalamnya, ada dua bagian lain yang kemudian
sukses menyertainya. Pertama adalah karakter Roy Wellar sendiri dengan
segala krisis kejiwaan yang diidapnya dimana sukses dibawakan dengan
sangat baik oleh Nicholas Cage. Karakternya punya porsi yang sama
besarnya antara kecerdasan seorang penipu hendal, kerapuhan seorang
neurotik dan sosok ayah yang belajar untuk mencintai putri 14 tahun yang
baru saja dikenalnya. Bagaimana Roy berinteraksi dengan putrinya itu
menjadi sub plot lain yang kemudian berhasil dengan baik mendukung plot
utama ketika Roy dan Frank merencanakan untuk menipu pebisnis sombong
yang hendak melakukan pencucian uang, sementara di sisi lain ia berjuang
untuk mengatasi segala kekurangannya.
Saya suka bagaimana Ridley Scott menutup kisah ini dengan ‘trik’ mengejutkan. Ya, mungkin bukan sebuah twist
yang kelewat istimewa, mengejutkan tapi sedikit terkesan memaksakan
diri, tapi bagaimanapun itu adalah penyelesaian yang pintar,
penyelesaian yang pantas untuk karkater Roy dan juga sangat mewakili
pesan dan judulnya.































