Fans FB

Senin, 30 April 2012

Review – Matchstick Men

Roy Waller (Nicolas Cage) adalah contoh karakter yang menarik, pertama karena pekerjaannya yang tidak biasa itu. Ia meyebut dirinya seorang con artist alias penipu. Ya, sudah lama Roy bersama rekannya, Frank Mercer (Sam Rockwell) menjalani profesi mereka sebagai penipu, mulai dari tipuan kecil seperti memalsukan lotere, menjual penyaring air murah dengan harga berkali-kali lipat, sampai menyamar sebagai agen federal. Kedua, Roy juga adalah pengidapap banyak kelainan mental yang aneh, dari agoraphobia (takut tempat terbuka dan keramaian), mysophobia (phobia terhadap segala kotoran dan bakteri), obsessive-compulsive personality disorder (perfeksionis dan mengharapkan segalanya rapi pada tempatnya) dan harus rutin mengkonsumsi obat tertentu karenanya. Dan ketika ia harus bertemu dengan Angela (Alison Lohman), putrinya yang tidak pernah di kenalnya sejak lahir atas saran ,hidup Roy pun menjadi tidak sama lagi.
Mengejutkan adalah ketika saya baru saja menonton Matchstick Men 8 tahun kemudian setelah filmnya rilis, mengejutkan lagi karena film garapan Ridley Scott ini ternyata lebih baik dari perkiraan saya sebelumnya. Ya, Seperti judulnya yang sudah terang benderang menjelaskan isinya, ia akan banyak bercerita tentang sepak terjang seorang penipu yang naskahnya diadaptasi dari novel Matchstick Men: A Novel about Grifters with Issues milik Eric Garcia. Tapi menariknya, dalam perjalannya Matchstick Men tidak melulu becerita soal teknik tipu menipu saja dengan segala selipan komedi satir di dalamnya, ada dua bagian lain yang kemudian sukses menyertainya. Pertama adalah karakter Roy Wellar sendiri dengan segala krisis kejiwaan yang diidapnya dimana sukses dibawakan dengan sangat baik oleh Nicholas Cage. Karakternya punya porsi yang sama besarnya antara kecerdasan seorang penipu hendal, kerapuhan seorang neurotik dan sosok ayah yang belajar untuk mencintai putri 14 tahun yang baru saja dikenalnya. Bagaimana Roy berinteraksi dengan putrinya itu menjadi sub plot lain yang kemudian berhasil dengan baik mendukung plot utama ketika Roy dan Frank merencanakan untuk menipu pebisnis sombong yang hendak melakukan pencucian uang, sementara di sisi lain ia berjuang untuk mengatasi segala kekurangannya.
Saya suka bagaimana Ridley Scott menutup kisah ini dengan ‘trik’ mengejutkan. Ya, mungkin bukan sebuah twist yang kelewat istimewa, mengejutkan tapi sedikit terkesan memaksakan diri, tapi bagaimanapun itu adalah penyelesaian yang pintar, penyelesaian yang pantas untuk karkater Roy dan juga sangat mewakili pesan dan judulnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar