
Michael Longstreet: ” Children suck the life out of you and leave us old and empty. It’s the law of nature “
Carnage dibuka dengan opening credit
yang menampilkan seorang bocah yang memukul temannya dengan sebuah
tongkat di sebuah taman di New York, lalu adegannya berpindah ke
apartemen milik Michael dan Penelope Longstreet (John C.Reilly dan Jodie
Foster) yang siang itu kedatangan tamu, pasangan suami istri, Alan and
Nancy Cowan (Christoph Waltz dan Kate Winslet) yang hendak meminta maaf
karena putra mereka telah membuat putra tuan rumah harus kehilangan dua
giginya dan dirawat di rumah sakit. Awalnya semua berjalan normal,
layaknya tuan rumah dan tamu, percakapan mereka diisi dengan aroma
persahabatan, basa-basi dan sedikit kecangungan, namun entah apa yang
terjadi kemudian, situasi berubah menjadi panas dan lepas kendali.
Seperti yang anda lihat di atas,
premisnya begitu sederhana, terlihat seperti hanya bercerita tentang dua
pasang orangtua yang sedang mendiskusikan masalah anak mereka yang
sedang berkelahi, tapi bukan Roman Polanski namanya jika tidak
menampilkan sesuatu yang istimewa di balik segala kesederhanaan temanya
itu. Naskahnya sendiri diadaptasi Polanski dari drama panggung milik
Yasmina Reza berjudul God of Carnage, dan sesuai judulnya yang
bisa diartikan sebagai kekacauan, pertumpahan darah, perang dan
pembantaian komedi hitam ini juga punya semua hal yang tidak nyaman itu
namun tentu saja disajikan secara satir tanpa harus melibatkan darah
sedikitpun kecuali memang pada kenyataanya anda akan menemui adegan
‘pembantaian’ di paruh keduanya setelah sebotol scotch berusia
18 tahun mulai menelanjangi segala kesopanan, kepalsuan dan segala
basa-basi dari dua pasang orangtua yang sudah tersaji di 45 menit
pertama.

Yang membuat Carnage menjadi
lebih menarik adalah faktanya ia adalah sebuah drama ruang sempit, dalam
artian ia dibuat dengan setting terbatas layaknya drama panggung Yasmin
Reza itu sendiri yang tempat bermainnya hanya berputar-putar di sekitar
apartemen keluarga Longstreet dengan 4 karakter aktifnya. Pastinya,
dengan penyajian tidak biasa seperti ini dibutuhkan kekuatan besar dari
dialog-dialog yang ada untuk membuat penontonnya tidak sampai turut
terpenjara dalam apartemen itu dengan kebosanan akut, dan lagi-lagi
Polanski berhasil menunaikan tugasnya dengan sangat baik dengan dukungan
naskahnya yang solid, humor-humor satir yang menggelikan dan juga
emosional disaat bersamaan termasuk menyelipkan beberapa insiden
menghebohkan yang mungkin sengaja disiapkan Polanski kalau-kalau
penontonnya sampai benar-benar jenuh.
Polanski tampaknya lihai benar bagaimana
menjaga ritme ceritanya untuk tidak sampai keluar dari jalurnya, sama
lihainya ketika ia mampu membuat Waltz untuk tetap terus kembali ke
apartmen itu dengan alasan-alasan yang masuk akal. Berikutnya adalah
tugas 4 aktor besarnya yang mengambil alih naskah Polanski dengan
pertunjukan akting solid mereka. Ya, awalanya mungkin penontonnya dengan
mudah menentukan di pihak mana mereka berada, tapi ketika cerita mulai
berkembang hingga menjadi lepas kendali di paruh keduanya, semua
karakter menjadi sama jahatnya, sama kenakan-kanakannya dengan
putra-putra mereka dan juga sama bodohnya.
Yang paling mempesona di sepanjang 80
menit mungkin adalah pasangan Winslet dan Waltz. Jika Waltz mampu tampil
sinis sebagai seorang pengacara handal yang selalu sibuk dengan
Blackberry-nya, Winslet juga tampil cemerlang membawakan karakter istri
yang tampak begitu tenang di awal film namun menjadi sama sintingnya
dengan tiga lainnya di akhir film. Mungkin hanya Jodie Foster terlihat
sedikit lemah, memaksakan dirinya untuk dapat menandingi kegilaan
pasangan mainnya, Reilly yang memang dengan mudah menampilkan sosok pria
bermasalah.
Jarang menemukan komedi semenarik dan seunik ini. Carnage
tidak butuh adegan-adegan slapstik super konyol dan jorok untuk dapat
membuat penontonnya terus tersenyum bahkan tertawa lepas di sepanjang
film. Ia memiliki lokasi yang terbatas, premis sederhana dan bahkan
hanya diisi 4 karakter di nyaris 95% durasinya, tapi semua elemennya
simpelnya itu rupanya mampu dimaksimalkan Polanski dengan sangat baik
untuk menjadikannya sebuah komedi hitam yang cerdas dan juga sangat
menyenangkan untuk ditonton.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar