
Beginilah nasib prom queen dari kota kecil Mercury, Minnesota.
Mavis Gary (Charlize Theron) merana di usianya yang 37, baru saja
bercerai, tinggal sendirian di apartemennya hanya ditemani anjing
kecilnya, sementara kariernya sebagai ghost writer sebuah novel serial remaja (young adult) juga berada di ujung tanduk dengan sang editor yang kerap kali menangih sisa tulisannya untuk buku terakhir sebelum Waverly Prep (novelnya) berakhir selamanya. Jadi ketika Mavis mendapatkan email
dari mantan kekasih SMU nya, Buddy Slade (Patrick Wilson) yang baru
saja mengumumkan kelahiran bayi perempuan dari istrinya, Beth (Elizabeth
Reaser), ia kemudian memutuskan untuk pulang kembali ke kampung
halamannya, tujuannya sangat tidak bermoral, yakni mencoba merebut
kembali cinta Buddy yang tengah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya
itu.
Menyenangkan sekali melihat sutradara
Jason Reitman dan penulis naskah Diablo Cody, dua orang yang paling
bertanggung jawab atas kehamilan Ellen Page dalam Juno, teen flick indie cerdas 2007 itu kembali lagi berkolaborasi untuk sebuah film layar lebar. Ya, inilah Young Adult, sebuah dark comedy drama
menarik tentang kedewasaan. Cody dan Reitman kembali lagi membuktikan
bahwa mereka memang duo sineas handal walaupun sesungguhnya
penyutradaraan Reitman kali ini mungkin tidak sampai terlalu istimewa
seperti film-filmnya yang lain, sama halnya seperti cerita yang ditulis
Cody di sini yang seakan-akan seperti versi kebalikan Juno,
tetapi tetap saja kombinasi keduanya mampu menghadirkan sebuah tontonan
yang mampu mengalir lancar, menghibur, lucu sekaligus mengasyikan hingga
akhir dengan balutan dialog-dialog dan komedi hitamnya yang bagus.
Tapi yang menjadi elemen terpenting
adalah ketika Cody mampu membentuk karakter hebat bernama Mavis Gary,
penulis, mantan ratu pesta dansa gila dan egosentris yang terjebak dalam
kejayaan masa remajanya yang kemudian sukses dihidupkan dengan sempurna
(sekaligus sangat menyebalkan) oleh seorang Charlize Theron dalam salah
satu penampilannya paling apik setelah Monster, menariknya, Theron tidak perlu susah-susah membuat dirinya menjadi buruk rupa untuk itu, cukup memasang tampang jutek nya
di sepanjang satu jam setengah dan bertingkah laku layaknya seorang
jalang hingga kemudian ‘meledakan’ dirinya di akhir film dalam situasi
memalukan, seakan-akan ingin menyampaikan sebuah pesan tidak biasa
tentang kedewasaan versi Cody dan juga ingin mengatakan bahwa kampung
halamanmu itu sebenarnya bukanlah tempat terbaik seperti yang sering
kamu lihat dalam film-film. Dan jika ada satu-satunya karkater yang bisa
mengimbangi kegilaan Theron di sini mungkin hanya Patton Oswalt yang
berperan sebagai mantan teman SMU Mavis yang cacat dan sama-sama
terjebak dalam masa lalunya. Karakter Matt Freehauf yang diperankan
Oswalt seakan-akan mampu menjadi duet maut tidak biasa dengan Theron
sekaligus pengimbang dari segala kekurang ajaran yang sudah dibuat
karakter Marvin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar