Fans FB

Selasa, 08 Mei 2012

Edward Norton........My Man





My love for Norton definitely isn’t just a crushing-teenager moment like I did with Devon Sawa, Kevin Zegers and Josh Hartnett at that time. I watched American History when I sat at senior high school and it was like kind of wtf moment, and after that, he always makes me to have wtff moment with his next projects. Norton secara fisik mungkin tidak semenakjuban Brad Pitt, justru, he looks like the boy next door tetapi anda tetap dapat melihat kharisma yang terpancar, yang menunjukkan intelektualitas pria Leo kelahiran 18 Agustus 40 tahun yang lalu (clueless fact, me and him,we’re celebrating our birthday together)

Tetapi, dalam sorotan kamera, Norton menjadi sosok yang berbeda, Fight Club (1999), 25th Hour (2002) dan Red Dragon (2002) adalah bukti bahwa ia salah satu aktor watak terbaik. Norton membawa kekuatan dalam setiap karakter yang ia perankan,  ia membawa movietard memahami apa yang dirasakan para karakter tersebut secara emosional tetapi ia sendiri tidak pernah terperangkap dalam peran yang sejenis. Satu-satunya kekurangan Norton adalah, he’s not a money maker like Damon dan kawan-kawannya. Damon sendiri yang pernah bekerja sama dengan Norton di Rounders (1998) mengatakan ia kagum dengan etos kerja Norton yang tinggi.
Selain itu, pribadi Norton yang sangat perfeksionis dan keselektifannya dalam memilih peran membuatnya tidak begitu populer dikalangan para pelaku industri Hollywood sendiri. Norton pernah terlibat keributan dengan sutradara American History X ataupun pihak Marvel ketika ia dibatasi untuk ikut campur dalam The Incredible Hulk. Dan yang pasti, he hates his celebrity status yang membuatnya tidak populer dikalangan moviegoers. Norton is just like us, ia tidak pernah menggunakan waktunya untuk hadir dalam gala-gala mewah para pekerja film, ia pria sederhana yang justru suka menggunakan subway dan menghabiskan waktu sebulan untuk berlibur ke Bali dan Raja Ampat.
Kebenciannya terhadap status selebritinya ini kadangkala menjadi bumerang, diceritakan ia pernah menolak permintaan tanda tangan fan. Tetapi, lepas dari semua itu, I love him for his acting and there’s no connection between his great talent and how nice he is in real life. Norton tetaplah salah satu aktor watak terbaik yang pernah ada dan I’m proud for what he did, and here’s my five fave of Norton’s movies


The People vs. Larry Flint (1996)
Movietard belum pernah menonton Primal Fear (1996) yang dianggap sebagai pencapaian terbaik Norton di awal mula karirnya. Tetapi, The People vs. Larry Flint yang dirilis setelah Primal Fear justru menunjukkan kekuatan mental dan betapa berbakatnya Norton. Alih-alih terbebani dengan status nominee aktor pendukung Oscar sebelumnya, Norton bermain lepas sebagai pengacara Alan Isaacman, my fave scene is when Alan talked at court room about freedom of speech.

American History X (1998)
Berperan sebagai Derek Vinyard si Neo Nazi yang bertobat menjadi salah satu superb perfomance Norton. 10 menit diawal film tak akan pernah terlupakan karena menjadi salah satu adegan paling mengiris hati. Setelahnya, Norton memainkan transformasi karakter Derek dengan sangat memukau, apalagi interaksinya dengan si adik turut membawa anda melihat kelembutan Derek. Nominasi best actor di Oscar menjadi bukti bagaimana bagusnya akting Norton di film ini.
Fight Club (1999)
Menjadi pria white collar yang bosan dengan hidupnya memang tampak mudah. Apalagi, justru Brad Pitt yang mendapat pujian karena keberaniannya dalam memainkan peran yang berbeda. Tetapi, entah kenapa movietard justru sangat jatuh hati dengan karakter si narator pengecut serta narasi datarnya ketika ia menceritakan hidupnya yang basi. Norton bermain dengan sangat lepas dan well, ia tampil sangat sederhana dan tidak sok tampil semenawan Clooney yang melakukan hal yang sama, sepuluh tahun setelahnya, melalui Up in The Air (2009)
25th Hour (2002)
Ini film yang sebetulnya akan membuat anda mengantuk, tetapi perjalanan sehari Monty menjadi sangat memikat karena Norton memerankan Monty dengan sangat believeable, ia memang bersalah tetapi juga menyimpan kekhawatirannya sendiri seperti tidak ingin masuk penjara dengan tampang bersih. Monty membawa kita melihat hubungannya dengan sahabat-sahabatnya, dan  percakapan yang sederhana menjadi sangat dalam karena akting luar biasa Norton. Apalagi terdapat banyak metafora tentang kisah hari terakhir seorang bandar drugs ini.
The Illusionist (2006)
Movietard agak kesulitan memilih film yang terakhir, The Incredible Hulk (2008) jelas tak masuk hitungan karena in my opinion, Norton tak cocok bermain digenre ini, his charisma even better than Bruce Banner itself! Dan hal ini mengingatkan movietard akan peran Norton sebagai pesulap Eisenheim dalam The Illusionist. Ya, bermain sebagai pesulap tricky yang berseberangan dengan sang pangeran justru membuka lebar kemampuan Norton mengeksplorasi kharismanya untuk memanipulasi, membuat karakter Eisenheim begitu charming tetapi juga menakutkan dengan ketenangannya tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar