Sudah bukan rahasia lagi jika di balik setiap Presiden terpilih selalu ada orang-orang hebat yang membuat jalan mereka menuju puncak menjadi lebih mudah, salah satu orang itu adalah Stephen Meyers (Ryan Gosling). Usianya baru 30 tahun ketika bekerja sebagai juru kampanye muda untuk Gubernur negara bagian Pennsylvania dan salah satu kandidat presiden Amerika Serikat dari partai Demokrat, Mike Morris (George Clooney). Ya, Meyers adalah ‘dalang’ dari setiap kesuksesan kampanye Morris selama ini, termasuk pidato-pidato politis sampai dekorasi panggung, seniornya saja, Paul Zara (Philip Seymour Hoffman) pun mengakui bahwa bawahannya itu memang pemuda luar biasa yang mampu mencapai karir yang biasanya baru didapati orang lain di usia 40, bahkan kehebatan Meyers juga sampai membuat ciut nyali kubu tim kampanye lawan dari Partai Republik yang dipimpin Tom Duffy (Paul Giamatti). Masalahnya Meyers itu naif dan idealis, ia tidak pernah menyangka bahwa politik itu bisa begitu sangat kejam dan kotor sampai ia mengalaminya sendiri nanti.
Politik, politik, politik, tidak peduli di dunia nyata maupun di film ia sama saja rumitnya bagi orang awam seperti saya yang kebanyakan hanya menjadi penonton dari kejauhan, dan film ke empat George Clooney sebagai sutradara ini jelas bukan tontonan bersahabat bagi para pemburu hiburan karena muatan politiknya yang begitu kental, dalam kasus The Ides of March Clooney yang juga merangkap sebagai pemain, produser dan penulis naskahnya akan banyak berbicara soal politik pra pemilihan presiden Amerika Serikat yang ceritanya diadaptasi Clooney dari naskah pertunjukan teater Farragut North milik Beau Willimon. Willimon sendiri turut diajak untuk membantu mengarap skrip filmnya.


Dengan menonton The Ides of March berarti anda harus siap dihujani oleh banyak dialog-dialog, istilah-istilah dan trik-trik ‘asing’ dibalik kampanye seorang calon presiden di sepanjang 100 menit durasinya. Ya, The Ides of March memang tampak kompleks dan berat untuk dikonsumsi, tapi hanya dibutuhkan sedikit kesabaran untuk kemudian bisa benar-benar tenggelam dalam kisahnya yang gelap, yah, sedikit, tunggulah hingga 30 menit, setidaknya sampai karkater Evan Rachel Wood yang berperan sebagai intern cantik bernama Molly muncul dan menjadi awal dari segala skandal besar yang menimpa Meyers dan bosnya itu. Dari titik inilah The Ides of March tidak lagi melulu membahas persiapan, proses dan debat capres, tapi ada banyak twist pintar, permainan kotor dan drama kehidupan melibatkan ego, loyalitas, kesombongan dan pengkhiantan yang mewarnai perjalanan menuju gedung putih. Ya, politik itu memang kejam, tidak ada celah untuk berbuat kesalahan sedikitpun, dan ketika Mayers melakukan satu kesalahan fatal maka ia harus menanggung akibat perbuatannya itu.
Seperti trilogi Ocean, Clooney seakan-akan kembali mempimpin gerombolan cast ‘bintang 5′ nya yang tampil solid dalam The Ides of March. Ada Ryan Gosling, aktor yang bisa dibilang paling bersinar tahun ini tampil bagus sebagai Stephen Meyers, kita diajak melihat perubaha karakternya dari pemuda yang begitu percaya diri dan naif, mendadak menjadi muram, cemas karena mengetahui bahwa dunia di hadapannya rupanya tidak sebaik seperti yang ia kira. Kemudian ada dua seniornya, Philip Seymour Hoffman dan Paul Giamatti yang tampil apik sebagai mentor dan rival, Evan Rachel Wood si ‘pemicu’ konflik dan tidak ketinggalan si cantik Marisa Tomei sebagai waratawan New York Times yang cerdas.
The Ides of March bisa jadi karya terbaik George Clooeny di belakang kamera sekaligus pemain setelah Good Night, and Good Luck yang luar biasa itu. Duetnya dengan Gosling seakan-akan menunjukan kepada penontonnya bagaimana cara kerja politisi-politisi berjas mahal dan bermulut manis itu sampai mereka bisa terpilih nantinya dalam balutan thriller politik paling cerdas, berliku dan kompleks tahun ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar