Review – We Need to Talk About Kevin (2011)
Posted by hafilova on December 23, 2011 MOVIENTHUSIAST.COM

Eva: ” Mommy was happy before Kevin came along. Now she wakes up every morning and wishes she was in France! “
Oke, mari kita membicarakan soal Kevin
(Ezra Miller), Kevin Katchadourian nama lengkapnya. Ia adalah remaja
pemurung berusia 16 tahun yang sudah dengan suksesnya mengahancurkan
kehidupan Eva (Tilda Swinton), yang tidak lain tidak bukan adalah ibu
kandungnya sendiri. Penontonnya tidak tahu persis apa yang sebenarnya
terjadi pada Eva yang depresif itu pada awal-awal film, mengapa rumah
dan mobilnya dilempari cat merah? Mengapa tetangganya memandangnya aneh?
Termasuk disaat seorang wanita tua tak dikenal menampar keras wajahnya
di luar supermarket. Dan melalui narasi maju mundur serta
fragmen-fragmen masa lalu dan masa sekarang dari sudut pandang Eva kita
kemudian bisa menebak-nebak bahwa ada sebuah peristiwa mengerikan yang
sudah terjadi, dan melibatkan putranya itu.
We Need to Talk About Kevin,
bisa jadi ini mimpi terburuk bagi setiap orangtua, salah satu film yang
sulit dilupakan tahun ini dan akan membuatmu bergidik setelah
menontonnya, yah, anggap saja We Need to Talk About Kevin seperti versi lain The Omen,
menariknya film terbaru Lynne Ramsay ini bukan horor, tapi sebuah drama
ibu-anak yang sanggup memberikan kengerian layaknya sebuah horor.
Kisahnya sendiri diadaptasi Ramsay dari novel milik Lionel Shriver
berjudul sama, novel yang berisi kumpulan surat-surat dari Eva
Khatchadourian kepada suaminya Franklin (di sini Franklin diperankan
oleh John C. Reilly) setelah putra mereka melakukan tindakan mengerikan
di sekolahnya. Tentu saja tidak mudah untuk kemudian merestrukturisasi
semuanya menjadi sebuah film dengan segala ketidakpastian, aroma
depresif yang kental, narasi non linear dan misteri-misteri yang
terungkap perlahan, tapi toh Ramsay rupanya mampu melakukannya dengan
baik, sangat baik malah.


Begitu banyak warna merah darah yang
digunakan Ramsay di sini, dari festival lempar tomat di Amerika Latin
pada awal film, cat yang di lemparkan oleh tetangga Eva ke rumahanya,
sampai kaleng-kaleng tomat di supermarket, semuanya seakan-akan ingin
mengabarkan betapa kejinya film ini, hebatnya, Ramsay memilih untuk
menghadirkan setiap kekerasan dan kebencian di dalamnya melalui
imajinasi penontonnya, atau dalam kata lain tidak ada adegan kekerasan
yang benar-benar dipertontonkan frontal oleh Ramsay, ia hanya akan
menghadirkan ekpresi ketakutkan dan kengerian luar biasa dari
wajah-wajah karkaternya, membiarkan pikiran liar penontonnya untuk
membayangkan sendiri apa yang terjadi, dan itu harus diakui jauh lebih
mengerikan ketimbang melihat langsung, lihat saja gaya kevin memakan
buat leci setelah sembelumnya sudah melakukan hal kejam pada adik
perempuannya sendiri, sakit!
Tapi We Need to Talk About Kevin
tidak melulu berbicara soal kekerasan dan kekejian dari seorang anak
‘setan’ bernama Kevin si psikopat yang licik, sadis, manipulatif, suka
memakai kaos ketat, hobi memanah dan tidak malu bermasturbasi di depan
ibunya itu saja. Ini juga tentang sebuah ketakutan luar biasa dari sosok
seorang ibu yang takut dan merasa bertanggung jawab karena tidak bisa
memberikan kasih sayang yang seharusnya pada anaknya, hingga apa yang
kemudian terjadi sang anak tumbuh menjadi sosok monster , dan Tilda
Swinton telah memerankan sosok ibu depresif dua anak, mantan agen
perjalanan sukses yang sering ditinggal suaminya dan tersiksa oleh
putranya dengan nyaris sempurna, termasuk menghadirkan segala emosi
kegetiran dan keputusasaannya dengan luar biasa. Dan tentu saja kemudian
ada Ezra Miller, yang begitu pas menjadi anak Swinton dari bentuk
fisik, tapi yang paling menarik adalah bagaimana aktor muda yang namanya
dikenal lewat Afterschool itu sukses memancarkan aura horor
melalui setiap tatapan matanya, gestur dan setiap dialog kasar yang
keluar dari mulut kotornya termasuk karkater manipulatifnya yang paling
menakutkan itu.
Ya, siapa yang menyangka jika We Need to Talk About Kevin
bisa menjadi tontonan ‘horor’ domestik yang begitu menakutkan dan
begitu menyayat hati, khususnya bagi setiap orang tua atau juga bagi
mereka yang berencana menjadi orang tua. Ramsey dengan cerdas
menghadirkan kengerian tanpa wujud di setiap adegannya, bermain-main
melalui imajinasi penontonnya melalui narasi tumpang tindih, aroma
depresif kental dan performa hebat Tilda Swinton.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar