
Beruntung generasi
80’an yang kadung cinta banget sama yang namanya Tintin bisa berjumpa
dengan versi movie-nya yang digarap secara maksimal oleh sutradara
handal Steven Spielberg. Astaga saya khan lahirnya 90-an ( pengen dibilang muda terus wkwkwk) . Saat generasi 80’an masih duduk di
bangku SD atau juga SMP, komik Tintin masuk dalam kategori bacaan wajib
karena mengandung unsur-unsur yang membuat penggemarnya suka dan fanatik
berat, tapi saya jujur ga pernah baca komiknya, cuma tau dari serial TV kartun nya saja heeeeeeeeeee
Tak mengherankan bila
generasi tersebut lekat banget sama yang namanya jurnalis berambut
jambul tersebut. Manakala hembusan kabar mengenai dibuatnya Tintin the movie jelas ini menjadi berita gembira buat mereka. Biar bagaimana pun yang diharapkan tentunya adalah versi bioskop yang paten.
Hasilnya,
banyak yang setuju tidaklah mengecewakan namun sayangnya banyak pula
yang menyambutnya dengan tidak antusias alias menganggap Tintin bukanlah
film yang gimana gitu. Harus diakui secara teknik filmografi, sinematografi, atau pun juga animasi, The Adventures of Tintin adalah the best in terms of effort.
Mereka yang bergelut menghasilkan produk tontonan yang berkualitas
mampu memberikan hasil terbaik menggarap cowok imut kaya gue ini, yang memiliki naluri
kewartawanan tingkat tinggi ini menjadi tontonan keren yang tetap stick to the comic’s plot.
Kehebatan
film ini patut disyukuri oleh orang-orang yang memang fanatik akan
kisah komiknya karena minimak kenangan bacaan bermutu saat muda dulu
muncul lagi dengan nuansa baru. Sayangnya, tidak untuk generasi
sekarang ini yang sepertinya adem ayem dan tak antusias. Alasannya yang
paling kuat adalah mereka tidak familiar dengan Tintin, Snowy dan
rombongannya yang bagi generasi dulu begitu melekat di hati. Tintin
bukanlah bacaan anak sekarang yang lebih memilih teenlit atau
komik naruto dan sebagainya yang bagi mereka lebih menghebohkan. Meski
imut dan dibekali kemampuan menuntaskan misteri, tak berlaku bagi anak
sekarang. Inilah yang menjadikan Tintin biasa-biasa saja bagi mereka.
Lepas dari rasa skeptis meski tidak sampai antipati, namun The adventures of Tintin juga sebetulnya memiliki poin-poin yang mesti dibenahi khususnya agar jilid dua dan tiganya menjadi lebih berkesan di hati. Di luar teknik animasinya yang terbilang cakep atau pun juga cast
nya yang tak memiliki kata cacat, entah mengapa setelah menonton film
ini, bagi sebagian penonton ada yang mengatakan filmnya terlalu cepat
dan kurang detail. Ada sedikit kesan kurang masuk akal dan tidak logis
khususnya saat Tintin bisa dengan cepat mengambil sebuah kesimpulan
untuk kemudian berlanjut ke adegan berikutnya. Saking stick to the comic
nya mungkin Spielberg pun melakukan hal tersebut. Membaca komik
khususnya Tintin lebih mengeksplorasi pikiran dan fantasi. Agak sedikit
berbeda dengan film yang lebih condong ke visualisasi sehingga
kesan-kesan tak logis pun bisa kentara jelas dan sedikit mengganggu.
The Adventures of Tintin adalah “mainannya” kaum cowok karena jarang cewek yang tertarik apalagi hingga terpikat sama Tintin dan Snowy. Akankah
hal itu menjadi kendala atau pekerjaan rumah untuk Spielberg atau pun
Peter Jackson dalam penggarapan jilid berikutnya? Sepertinya mereka
tidak terlalu memikirkannya karena toh Tintin tetap memiliki
penggemar khususnya yang datang dari era 80’an tadi yang kuantitasnya
boleh dibilang cukup banyak juga.
pemain: Jamie Bell, Daniel Craig, Andy Serkis, Simon Pegg, Nick Frost
Sutradara: Steven Spielberg
Naskah: Steven Moffat, Edgar Wright, Joe Cornish
Durasi: 107 menit
Bujet: $135 juta
Distributor: Paramount Pictures, Columbia Pictures
Source : Movie Monthly, Cinemags
Tidak ada komentar:
Posting Komentar