
THE STEAMPUNK MUSKETEERS.
The Three Musketeers adalah korban panasnya persaingan film-film musim panas di Amerika yang kini kian brutal dan tanpa ampun.
Didukung nama-nama terkenal dan mengambil materi yang telah melegenda,
sulit dipercaya jika di minggu pertamanya film ini hanya bisa meraup
$8 juta saja. Review dari para kritikus pun turut memperkeruh keadaan,
hingga sampai membuat Milla Jovovich misuh-misuh dengan mengatakan distributor Summit gagal mempromosikan film ini. Semua yang terlibat kebagian getahnya, meskipun saat premiere
para cast dan sutradara Paul W.S. Anderson menyatakan optimismenya.
Meski dilecehkan publik AS, nyatanya film ini tetap meraih kesuksesan
yang cukup memadai dari peredaran internasionalnya. Hingga saat tulisan
ini di buat, angka $64 juta lebih telah dikumpulkan dari seluruh
dunia, atau sedikit lagi mampu mengembalikan modal pembuatannya.
Adaptasi modern dari kisah Alexandre Dumas ini, dikemas Anderson dalam sebuah film bergenre steampunk layaknya Sherlock Holmes atau The Wild Wild West.
Pendekatan macam ini belum apa-apa telah dianggap penghinaan bagi
sebuah kisah legendaris, dan tentu bukan langkah yang populer
dilakukan. Tambahan penggunaan anting retro oleh para musketeers dan Buckingham, yang sebenarnya amat cool, serta adanya airship
yang keren, menambah kebencian publik berpikiran sempit serta
tradisional. Langkah Anderson yang mengubah sebuah kisah klasik menjadi
tontonan modern dan menghibur, akhirnya dianggap memperlakukan secara
tidak hormat sesuatu yang klasik, hingga pantas dilabeli “sampah”.
Publik AS yang konon dikenal sebagai masyarakat berpikiran maju,
akhirnya menunjukkan keterbelakangan pandangannya terhadap sesuatu yang
berbeda.
Karena sejak awal dicanangkan sebagai sebuah tontonan keren demi tuuan hiburan semata, Anderson tak berpayah-payah menyusun ulang naskah yang ringan. Segmen pencurian permata yang dilakukan oleh Milady dan keempat anggota dan calon anggota musketeers, aslinya memang terdapat dalam kisah Dumas. Sedikit sentuhan ala Ocean Eleven atau Mission: Impossible,
harusnya diapresiasi sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat.
Akting yang dinilai kaku oleh banyak pihak, ditambal dengan
adegan-adegan action yang cukup spektakuler. Alur kisah pun dirancang
berada di jalur cepat dan tak memberikan kesempatan penonton untuk
menguap. Khusus sajian special effects-nya, Anderson
benar-benar memaksimalkan potensi layar 3 dimensi, serta mengukuhkan
kekhasannya sebagai inisiator film-film berefek khusus yang cukup
menakjubkan.
The Three Musketeers adalah sebuah tontonan ringan, fresh, fun dan menarik untuk disaksikan tanpa berprasangka apa pun.
Kasus film ini makin menegaskan bahwa terdapat perbedaan pandangan
publik AS, khususnya terhadap tema sebuah film. Saat publik di bagian
penjuru dunia lain tampak menikmati sajian artistik penuh gaya dari
Anderson, di negara pusat perfilman sendiri justru mengalami nasib yang
tidak mengenakkan. Apa yang dilakukan Anderson adalah membuat sebuah
film yang menghibur, dan telah diperagakannya dengan baik dalam film
ini, melebihi apa yang telah dilakukannya pada franchise Resident Evil.
Cukup menyedihkan melihat sebuah film yang berpotensi besar
dicampakkan begitu saja, dan beruntung masyarakat di luar AS lebih
memiliki pikiran yang lebih terbuka pada sesuatu yang berbeda.
Pemain: 5/10
Cerita: 6/10
Ending: 5/10
Keseluruhan: 5/10
Pemain:
Logan Lerman,
Milla Jovovich,
Matthew Macfadyen,
Ray Stevenson,
Luke Evans,
Mads Mikkelsen,
Juno Temple,
Orlando Bloom,
Christoph Waltz
Sutradara:
Milla Jovovich,
Matthew Macfadyen,
Ray Stevenson,
Luke Evans,
Mads Mikkelsen,
Juno Temple,
Orlando Bloom,
Christoph Waltz
Sutradara:
Paul W. S. Anderson
Naskah:
Andrew Davies,
Alex Litvak (berdasarkan novel
Alex Litvak (berdasarkan novel
“The Three Musketeers” oleh
Alexandre Dumas)
Distributor:
Summit Entertainment
Durasi:
110 menit
Bujet:
Bujet:
$90 juta
US Opening:
$8,674,452
Tidak ada komentar:
Posting Komentar